GRAFFITI
GRAFFITI
GRAFFITI
GRAFFITI
GRAFFITI
Showing posts with label Music. Show all posts
Showing posts with label Music. Show all posts

Tuesday, May 24, 2011

Sir Paul: Rolling Stones Iri pada The Beatles



Foto anggota band Beatles ini dibuat 21 September 1964, di bandara New York. Hasil polling terbaru yang dilakukan Pew Research Center, menunjukkan Beatles adalah band terfavorit sampai saat ini. Foto: AP
TEMPO Interaktif, Jakarta - Sir  Paul McCartney mengatakan The Rolling Stones cemburu pada The Beatles karena keempat anggota band itu bisa menyanyi, sementara mereka hanya bergantung pada Mick Jagger.Sir Paul, yang baru-baru ini bertunangan dengan wanita Amerika Nancy Shevell dan akan menjadi pernikahan ketiganya, mengatakan Stones sering menyebut band itu "Monster Berkepala Empat."Dalam sebuah wawancara yang diterbitkan di Radio Times Selasa, musisi 68 tahun itu mengatakan The Beatles dibentuk pada tahun 1960 pada waktu yang tepat untuk memimpin dan mempengaruhi musik pop.The Rolling Stones, yang termasuk gitaris Keith Richards, dibentuk pada tahun 1962 dan persaingan antara kedua band terus berlangsung selama beberapa dekade.Sir Paul mengatakan "keempat kami bukan orang biasa.""Saya berbicara dengan Keith Richards beberapa tahun yang lalu, dan ia mengatakan 'Man, kalian beruntung, kalian memiliki empat penyanyi, sedangkan Rolling Stones hanya punya satu'," ujar Sir Paul."Saya bisa menyanyi, John bisa menyanyi, George bisa menyanyi dan Ringo bisa menyanyi. Jadi bukan satu penyanyi dengan band pendukung.""Kami adalah satu kesatuan. Mick biasa menyebut kami 'Monster Berkepala Empat'. Kami selalu muncul berpakaian sama."Sir Paul mengatakan The Beatles juga beruntung bahwa mereka terbentuk pada tahun di mana wajib militer telah ditinggalkan di Inggris.
Sejak akhir Perang Dunia Kedua, lulusan sekolah terpaksa menjalani satu atau dua tahun wajib militer. "Salah satu hal paling menakjubkan untuk Beatles adalah kami luput wajib militer," ujarnya.Sir Paul mengatakan The Beatles telah melihat band-band pop Inggris yang sukses pergi ke Amerika Serikat dan gagal, tetapi mereka bertekad untuk tidak gagal.Mereka tidak tur di Amerika sampai mereka memiliki hit nomor satu pada tahun 1963 dengan I Wanna Hold Your Hand.Sir Paul mengatakan band ini telah meminjam inspirasi dari musik Amerika hitam untuk suara original, sementara banyak orang kulit putih di AS tidak pernah mendengar suara itu. "Itu mengubah sikap banyak orang Amerika putih terhadap musik itu, karena kami memiliki banyak penggemar," ujarnya

Wednesday, April 20, 2011

Selamat Jalan Frangky

Hujan Deras Sambut Jenazah Franky di Rumah Duka
Jakarta Jenazah Franky Sahilatua langsung dibawa ke rumah duka di Jalan WR Supratman No 72 di Bintaro, Tangerang. Hujan deras menyambut sang pelantun 'Perahu Retak' itu.




Rumah duka masih tampak sepi. Hujan disertai angin kencang melanda kawasan Bintaro dan sekitarnya. Menurut pantauan detikhot, jenazah beserta rombongan pengantarnya tiba di rumah duka pukul 16.00 WIB.

Para kerabat seperti sineas Garin Nugroho juga terlihat berada dalam rombongan. Mereka langsung membawa jenazah ke dalam rumah. Jenazah juga dikabarkan akan langsung dimandikan.

Pemakaman Franky akan menunggu sang anak datang dari Singapura. Anak kedua Franky, Hugo Delano memang tinggal di Negeri Singa.

"Jenazah saat ini akan langsung dipulangkan tapi di Bintaro di rumah duka, kami masih menunggu anaknya yang dari Singapura," ujar Sukardi Rinakit kerabat Franky ketika dihubungi via ponselnya.

Penyanyi legendaris itu meninggal, Rabu (20/4/2011) pukul 15.15 WIB karena kanker sumsum tulang belakang. Franky meninggal pada usia 57 tahun.

sumber: Detik.com

Thursday, February 17, 2011

Iron Maiden tampil Memukau Di Jakarta

Iron Maiden Menggebrak Jakarta MI/Panca Syurkani/vg
JAKARTA--MICOM: Band heavy metal legendaris asal Inggris, Iron Maiden menggelar konser di Jakarta, Kamis (17/2) malam. Konser yang baru pertama kali digelar di Indonesia itu, merupakan rangkaian tur dunia Iron Maiden yang bertajuk The Final Frontier World Tour Asian-Australian 2011.
Iron Maiden yang terdiri Steve Harris (bass), Dave Murray (gitar), Adrian Smith (gitar), Bruce Dickinson (vocal), Nicko McBrain (drum), Janick Gers (gitar) memulai konsernya sekitar pukul 21.00 WIB dan langsung menyanyikan lagu 'Sattelite 15 The Final Frontier' yang disambut riuh ribuan penonton fanatik yang larut dalam alunan lagu pembuka tersebut.
Konser band heavy metal asal kota Leyton, London Utara itu merupakan yang kali pertama di Indonesia. Saat memulai konser, Iron Maiden langsung menggebrak Jakarta dengan menyanyikan lima buah lagu yang dibawakan tanpa jeda sehingga atmosfer penonton di Pantai Karnaval Ancol semakin memanas.
Dalam konser itu, Iron Maiden membawakan sekitar 19 lagu. Tembang Fear of the Dark, Flight 666, dan The Trooper dibawakan sangat apik oleh band yang meraih Grammy Award 2011 untuk penampilan band heavy metal terbaik itu.
Selain tata panggung dan cahaya yang menarik, ada yang unik saat konser berlangsung, di tengah konser itu muncul sesosok mahluk raksasa berwarna hijau yang ikut bermain gitar. Tak ayal, aktraksi panggung itu disambut tepuk tangan penonton.
Walau usia enam personil band lawas ini sudah tidak muda lagi, namun penampilan panggung mereka cukup prima dan menghibur bagi ribuan penonton yang sudah menunggu sejak sore.
Usai konser di Jakarta, rencananya Iron Maiden akan menggelar konser di Bali pada tanggal 20 Februari 2011 sebelum mereka melanjutkan tur dunianya di Australia. Konser perdana Iron Maiden di Indonesia itu pun berakhir pada pukul 23.30 WIB.

Ribuan Penggemar Hadiri Konser Iron Maiden

Ribuan Penggemar Hadiri Konser Iron Maiden di Jakarta MI/Panca Syurkani/ip

Perhelatan konser Iron Maiden di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, Kamis (17/2) malam, dihadiri ribuan penggemar. Vokalis sekaligus basis band Netral, Bagus Dhanar Dhana, merupakan salah satu dari ribuan penggemar yang juga ikut menyaksikan penampilan Iron Maiden.

"Sudah lebih dari 30 tahun mereka eksis. Ini konser terbesar mereka setelah tampil keliling dunia pada 2008 silam," ujar Bagus, mengomentari konser bertajuk 'The Final Frontier World Tour 2011' itu.

Iron Maiden adalah band legenda yang masih eksis hingga saat ini. "Makanya, saya hadir untuk menyaksikan performa mereka," tutur Bagus dengan celana pendek khasnya.

Pada konser tersebut, Iron Maiden bakal membawakan sedikitnya 17 lagu. Salah satunya adalah 'El Dorado'. Lagu ini merupakan lagu jagoan di album terakhir Iron Maiden, The Final Frontier.

Lagu tersebut memiliki durasi 6 menit 48 detik. Lewat lagu ini, Iron Maiden menyabet Grammy untuk kategori 'Best Metal Performance' pada Grammy Awards 2011, pekan lalu.

sumber: media Indonesia.com

Iron Maiden Tampil Memukau


Akhiri Konser Iron Maiden Lempar Alat Musik ke Penonton Voikalis Iron Maiden--MI/Panca Syurkani/rj

Seperti diperkirakan sebelumnya, pertunjukan musik kelompok heavy metal legendaris asal Inggris Iron Maiden tampil habis-habisan di hadapan puluhan ribu penggemar fanatik yang mamadati Pantai Karnaval Ancol Jakarta, Kamis (17/2)  malam.

Grup band yang diawaki Bruce Dickinson (vokal), Steve Harris (bass), Dave Murray (gitar), Janick Gers (gitar), Adrian Smith (gitar) dan Nicko McBrain (drums) itu, tampil dengan prima meski usia mereka rata-rata di atas lima puluh tahunan.

Performa panggung mereka tampak masih tetap memukau, lengkingan suara vokalis Bruce Dickinson masih terjaga dan cabikan bas sang frontman Steve Haris masih terdengar garang.

Konser diawali dengan intro yang diambil dari album terbaru mereka sebagai musik latar, dan lampu panggung pun berpendar mengiringi para musisi beraksi saat menampilkan nomor perdananya lagu The Final Frontier, disusul lagu Eldorado yang belum lama menyabet penghargaan Grammy.

Antusiame penonton membara ketika mereka melantunkan hit legendarisnya 2 Minutes Two Midnight yang dicuplik dari Album Power Slave (1984), penonton seolah tersihir untuk ikut bernyanyi bersama hingga lagu usai sambil mengacungkan dua tangan ke atas.

Melihat semangat penonton yang begitu menggelora, Bruce Dickinson sempat mengutarakan kekagetannya akan sambutan penonton saat jeda lagu. Bruce Dickinson juga menyapa dengan akrab para penonton dan berujar akan menampilkan lagu-lagu hitnya baik dari album baru maupun dari album lawasnya.

Selanjutnya, meluncur tembang-tambang hit yang menjadi langganan dalam setiap konsernya seperti The Rooper, Fear of The Dark, The Evil That man Do dan Iron Maiden.

Untuk menyemangati terus penonton, sang vokalis meneriakkan tidak bosan bosannya meneriakkan yel-yel ciri khasnya saat tampil di panggung. "Scream for Me Jakarta", teriaknya kepada penonton untuk diajak bernyanyi dan disambut dengan teriakan histeris dari seluruh penonton.

Saat jeda lagu berikutnya, Bruce Dickinson kembali berdialog dengan penonton. "Saya lihat di sini di Jakarta, semua berkumpul tidak masalah berbedaan ras dan agamanya. Dari Malaysia, Australia juga datang, semua berkumpul karena kita saudara", ujarnya bersemangat dari atas panggung.

Seanjutnya meluncurkan lagu Blood Brothers yang dicuplik dari album Brave New World (2000), dan penontonpun berteriak dan ikut menyanyikan bagian lagunya, "We`re Blood Brothers, We`re Blood Brothers".

Tidak hanya tembang-tembangnya yang memukau penonton, atraksi panggung para personelnya juga menjadi tontonan menarik tersendiri. Gaya bernyanyi Bruce Dickinson yang rajin berlari menyatroni setiap sudut panggung, berlompatan dari sudut ke sudut terlihat berhasil mengharu biru penonton.

Sementara itu Steve Harris dengan istikamahnya bergaya seolah menembakkan bas gitarnya ke arah penonton, dan Jannick Gers beraksi dengan memutar mutar gitar melodinya di sekujur tubuhnya sambil sekali kali memainkan dawai gitar dengan garangnya.

Adegan wajib yang juga dinantikan penonton adalah ketika mereka menampilkan lagu kebangsaan mereka The Trooper, seperti dalam konser-konser sebelumnya. Bruce Dickinson dengan kostum tentara kerajaan Inggris tempo dulu tampak mengibar-ngibarkan bendera Union Jack dengan back drop panggungnya, sang maskot Eddie yang juga memegang bendera. Sebuah adegan yang membuat seluruh penonton berteriak histeris.

Di penghujung pertunjukkan, setelah menggeber dua lagu andalan The Number of The Beast dan Hallowed be Thy Name, Bruce Dickinson mengakhiri aksinya dengan tembang lawas Running Free yang diselingi sebuah improvisasi lagu dan memperkenalkan nama-nama personel band.

Konser Iron Maiden di Jakarta ini merupakan rangkaian dari tur album baru yang bertajuk The Final Frontier world Tour 2011. Konser diawali di Moskow, Rusia pada 11 Februari lalu dan Singapore Indoor Stadium pada 15 Februari, dan setelah Jakarta akan dilanjutnya di Bali 20 Februari.

Selama 66 hari mereka akan berkeliling dunia ke 13 negara, mengunjungi 26 kota sekaligus menggelar 29 konser kolosal di sana. Tur leg pertama ini ini direncanakan bakal berakhir di St.Petersburg, Rusia pada 10 Juli 2011 mendatang.

Iron Maiden merupakan salah satu band pionir genre New Wave of British Heavy Metal yang dibentuk oleh pemain bass Steve Harris di London Timur, Inggris pada tahun 1975. Hingga kini totalnya mereka telah merilis 31 album yang termasuk di antaranya 15 album studio, 5 album kompilasi, 7 album live, 4 album mini yang seluruhnya telah terjual sebanyak lebih dari 85 juta keping di seluruh dunia.

Dengan reputasi seperti itu, tentu tidak mudah untuk bisa mendatangkan mereka ke Jakarta, kata promotor Tommy Pratama dari Original Production yang sudah sejak tahun 2005 telah giat melobi untuk bisa tampil di Indonesia.

"Saya masih tidak percaya berhasil mendatangkan Iron Maiden ke Indonesia, ini seperti mimpi," ujar Tommy Pratama dalam jumpa wartawan sehari sebelum pertunjukan.

sumber: Media Indonesia.com

Iron Maiden Menggebrak Jakarta


JAKARTA, KOMPAS.com — Kesabaran penggemar Iron Maiden untuk bertemu idolnya akhirnya tertumpah di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, Kamis (17/2/2011) malam, saat Bruce Dickinson membuka konser "The Final Frontier World Tour 2011" dengan lagu "The Final Frontier". Dickinson membuat kerinduan penggemar Iron Maiden benar-benar terwujudkan.

mengesankan band kawakan Iron Maiden di Pantai Karnaval, Ancol, Jakarta, Kamis (17/2) malam, diakhiri dengan aksi spontan melemparkan berbagai peralatan musik ke arah penonton.
Beberapa di antara ribuan penonton yang kebetulan mendapatkan alat-alat musik itu tampak sangat bahagia.

"Saya berharap semua senang. Mudah-mudahan suatu hari nanti kami bisa tampil lagi di Jakarta," ujar vokalis Iron Maiden Bruce Dickinson seusai melemparkan kupluknya.

Selain Dickinson, Iron Maiden juga dikawak Dave Murray (gitar), Adrian Smith (gitar), Janick Gers (gitar), Steve Harris (bas), dan Nicko McBrain (drum).

Pada akhir konser yang berlangsung selama dua jam itu, McBrain juga melemparkan beberapa tambur (drum) dan steak ke penonton. "Saya berharap Anda semua senang," tuturnya seraya turun dari atas panggung.

Kini, Dickinson dan kawan-kawan akan mempersiapkan diri kembali untuk tampil di Garuda Wisnu Kencana, Bali, Minggu (20/2). "Kami akan memberikan performa yang tentunya tidak berbeda dengan malam ini," pungkas Dickinson. (OL-5)

Tuesday, February 8, 2011

Tentang Gitar

Sejarah gitar atau guitar dipercaya dimulai di wilayah Timur Dekat. Di antara puing-puing yang di temukan di Babylonia, yang paling relevan adalah gitar yang dibuat pada 1900-1800 SM. Dari masa itu, hingga tahun 1650, gitar mengalami evolusi yang begitu rumit dan beraneka ragam. Begitu banyak jenis, dan masing-masing memiliki nama yang berbeda.


Vihuela

Beberapa kalangan berpendapat lain, menganggap gitar justru berasal dari negara Spanyol, karena alat musik gitar, mirip sama alat musik Spanyol yang bernama "Vihuela" yang beredar pada awal abad ke-16. Alat baru ini (gitar) mempunyai cara pembuatan yang sama dengan alat musik "Ukulele", sejenis gitar berukuran kecil, sekitar 20 inci, bersenar/dawai 4, dan merupakan alat musik asli Hawai, yang ditemukan sekitar tahun 1879. Gitar pertama kali yang dibuat, sebenarnya berukuran sangat kecil dan juga hanya memiliki empat dawai, seperti ukulele.


Ukulele

Pada masa klasik banyak terdapat publikasi yang dilakukan oleh para pembuat lagu dan juga para pemusik. Seperti Fernando Sor, Mauro Guiliani, Matteo Carcassi, Fernando Caulli, dan masih banyak para pencipta yang mengembangakan metode bermain gitar, yang akhirnya menjadi permainan yang umum dan dapat diterima.


Cittern

Instrumen yang kontribusinya sangat penting dalam perkembangan gitar adalah instrumen "Cittern". Instrumen ini juga berbentuk menyerupai buah pir, bagian belakang yang rata, dengan empat atau lima pasang senar dari kawat, dan dengan fretting yang permanen, apakah itu diatonik seperti Appalachian Dulcimer, ataupun chromatic seperti gitar modern. Tuning head sudah dipasang mirip seperti pada gitar atau mandolin. Stemannya sama dengan mandolin (in fifths), dengan fingering dan chord yang sama dan dimainkan dengan plectrum atau pick.


Four Course Guitar

Four Course Guitar memiliki 4 pasang senar, body berbentuk gitar dan soundboard yang rata, bridge dari lute, dan bagian belakang dibuat setengah melengkung, tetapi tidak terlalu membentuk bulatan. Instrumen ini berukuran seperti gitar anak-anak. Five Course Guitar muncul sekitar tahun 1490 dan mirip dengan four course guitar dengan tambahan satu pasang senar bass. Instrumen ini dinamakan juga English Guitar.

Ada pula "Vihuela De Mano" yang berasal dari Spanyol dan merupakan instrumen dengan enam pasang senar. Bodynya cukup besar seperti gitar klasik jaman sekarang, dan mempunyai beberapa lubang suara di atasnya. Instrumen ini menggunakan fixed bridge, dan kemungkinan merupakan nenek moyang langsung dari gitar 12 senar USA yang masuk ke Amerika Utara melalui Mexico, Texas, dan Louisiana.

Masih banyak jenis gitar lainnya yang terus berkembang. Gitar seperti yang kita kenal sekarang, yaitu bersenar enam, baru muncul sekitar tahun 1750. Dan selama sekitar 90 tahun berikutnya (hingga tahun 1840), gitar senar enam ini cukup pesat berkembang di Spanyol.


Masuknya Guitar di Indonesia



Penjajahan, selain menyisakan catatan kepedihan, juga menuai nilai seni. Salah satunya adalah dengan dibawanya gitar oleh orang-orang Portugis di sekitar abad ke-17.

Pada waktu itu, sejumlah tawanan asal Portugis di Malaka, dimukimkan oleh Belanda di kawasan berawa-rawa di Jakarta Utara, di sebuah kampung Tugu. Agar mereka tidak bosan, mereka menghibur diri dengan bermain musik.

Nah, musik yang mereka gunakan saat itu adalah gitar. Konon, dari hasil pengenalan rakyat terhadap alat musik itu, lahirlah beberapa alat musik petik yang dimainkan untuk mengiringi lagu-lagu keroncong.


Ada 3 jenis gitar yang dimainkan para tawanan saat itu, yaitu :

1.Gitar Monica, yang terdiri dari 3 dawai

2.Gitar Rorenga, yang terdiri dari 4 dawai

3.Gitar Jitera, yang terdiri dari 5 dawai.


Dua abad kemudian gitar dan keroncong menjadi populer di kalangan bangsawan dan kemudian menyebar ke pelosok tanah air.


Guitar Elektrik


Fender Telecaster

Di zaman modern, orang mulai mengenal gitar yang memanfaatkan sumber daya listrik. Bunyi yang dihasilkanya berbeda dengan bunyi gitar klasik. Gitar listrik pertama kali dibuat pada 1932 oleh Adolphus Rickenbacker. Gitar ini mengambil bentuk rancangan gitar Spanyol tradisional.

Setelah itu, perkembangannya terus berlanjut. Ide yang mempercepat perkembangannya diawali dari sering diadakannya konser-konser dengan jumlah penonton yang banyak, sehingga jikalau tanpa bantuan sound system, suaranya tak terdengar, apalagi bila penonton berteriak-teriak riuh.


Fender Stratocaster

Produsen gitar bermunculan di mana-mana. Dua yang terkenal, adalah Fender dan Ibanez. Selain itu, media-media juga mempublikasikan pemain-pemain gitar hebat melalui mejalah bergengsi, seperti Guitar Player. Kini, komponen-komponen pada gitar listrik, seperti bridge/tremolo, pick-up, juga senar, bahkan diproduksi terpisah dari produser gitar.

Ada pula hal-hal yang nyentrik dalam perkembangan gitar, seperti gitar bersenar tujuh yang dipopulerkan oleh Steve Vai di tahun 1989. Ide ini datang saat ia bergabung dengan David Lee Roth Band pada tahun 1985, menggarap album Crazy from the Heat. Ia memutuskan demikian karena sang bassis, Billy Sheehan, sering menyetel bassnya dengan formasi lain, bernama Drop D Tuning (dari atas ke bawah : D-A-D-G, umumnya E-A-D-G).


Ibanez

Bekerjasama dengan Ibanez tahun 1987, akhirnya lahirlah gitar pertama bersenar tujuh, dengan dawai teratas, alias ketujuh, bernada B. Gitar ini dinamakan "The Universe-7 String". Vai juga memiliki gitar dengan neck yang berlawanan (menghadap ke kiri dan kanan), untuk membuktikan kemampuannya bermain kidal.

Sementara itu, Eddie van Halen, menjadi pelopor dalam penggunaan whammy bar up-down, yang kemudian dikenal sebagai Floyd Rose tremolo/bridge. Inovasi ini lengkap dengan pengunci senar pada bagian nut gitar. Sistem ini dikenal sebagai locking nut tremolo system.


Gibson

Eddie mengembangkan sistem tremolo yang sudah ada sebelumnya, yaitu tremolo yang hanya bisa ditekan down atau turun (menghasilkan nada yang lebih rendah). Sistem lama ini dikembangkan oleh pabrik Fender dan terpasang sebagai perlengkapan standar pada model Stratocaster. Inovasi ini terpikir olehnya pada sekitar tahun 1976.

Saat itu para gitaris hebat seperti Ritchie Blackmore dan Jimmy Page sering mengalami masalah pada tuning gitar mereka. Karena mereka sering mem-bending senar terlalu banyak untuk menghasilkan suara yang 1½ nada lebih tinggi. Akibatnya, senar jadi kendor dan tentunya nadanya juga jadi fals. Dengan locking nut tremolo system, senar dikunci di bagian nut gitar agar tidak bergeser ketegangannya.


Gibson

Sedikit tambahan, pada tahun 1991, juga pernah dibuat gitar yang paling besar di Amerika Serikat, tepatnya di Indiana. Bayangkan, panjangnya sampai 11 meter, hampir sama panjang dengan dua buah mobil limosin! Gitar ini membutuhkan 6 orang untuk memainkannya.